Monday, December 26, 2011

PESAN Edisi 78

Pada zaman modern ini, tentu persekutuan-persekutuan gerejawi dapat memilih satu atau beberapa sikap doa yang diikuti dalam doa bersama; tetapi dalam doa pribadi orang percaya, setiap individu Kristen seharusnya boleh menentukan sendiri, sikap mana yang dia akan ikuti, yang penting suasana hati orang yang berdoa itu benar-benar mencerminkan hubungan pribadi yang erat dan indah (intimate personal relationship) dengan Bapa Sorgawi. Untuk lebih detail, dapatkan versi PDF PESAN 78 di sini.



Thursday, June 9, 2011

PESAN Edisi 77

 “Kita jangan menyerah dan harus selalu berserah kepada Tuhan Yesus Kristus, sebab kita melakukan ini hanya untuk kemuliaan-Nya,” Kadang dalam pelayanan kita kehilangan fokus, untuk siapa kita melakukan pelayanan ini. Pesan Edisi 77 ini memuat banyak hal yang bisa membuat kita lebih fokus dalam melayani Tuhan. Dapatkan PESAN Edisi 77 dalam bentuk pdf di sini.

Saturday, March 19, 2011

PESAN Edisi 76

Ada nubuat-nubuat tertentu yang penggenapannya segera terjadi (immediate fulfillment), ada pula nubuatan yang sudah digenapi sebagian tetapi yang selengkapnya masih menunggu sampai waktu yang lama, bahkan ada yang digenapi nanti pada akhir zaman (partial fulfillment). Apablia saudara ingin mengetahui detailnya, segera dapatkan PESAN Edisi 76. Kami juga menyediakan online dalam bentuk PDF. Untuk mendownload silahkan klik di sini

Wednesday, February 2, 2011

BSL - TENTANG INJIL


Oleh: Pdt. Dr. Frans P. Tamarol

Pengantar

        Walaupun kata “injil” sudah dikenal luas di masyarakat umum terutama di kalangan kristiani, namun masih saja timbul pertanyaan-pertanyaan mengenai arti sebenarnya dari kata itu dan apakah ada perbedan-perbedaan di antara berita yang disampaikan oleh Tuhan Yesus dan para rasul, khususnya Rasul Paulus. Di sekolah-sekolah kita di Indonesia bahkan diajarkan bahwa Injil itu adalah nama Kitab Suci orang Kristen. Akibatnya ialah, setiap kali ada orang Kristen yang dalam percakapan sehari-hari sempat menyebut kata “injil” atau menyampaikan kalimat-kalimat yang diperkirakan berkaitan dengan Injil, dengan serta-merta teman bicaranya yang non Kristen akan menampik sambil berkata, “Itu kan diajarkan dalam Injil, yaitu Kitab Suci kamu, sedangkan kami mempunyai Kitab Suci kami sendiri.” Tentu saja bagi dia itu adalah benar, dan dia mempunyai hak untuk menampik. Kita harus menjelaskannya dengan sopan dan harus menghindari perdebatan yang mengarah kepada meningkatnya emosi, itu sama sekali tidak baik (counter productive).
       Hal serupa dapat juga terjadi dalam percakapan di antara orang-orang Kristen yang tidak segolongan gereja. Sebagai manusia, para pengkhotbah/pengajar di persekutuan gereja masing-masing tidak akan pernah mampu memberi penjelasan yang utuh untuk setiap topik iman Kristen. Mereka hanya memberi tekanan-tekanan pada bagian-bagian tertentu pada setiap kesempatan berkhotbah atau mengajar. Anggota-anggota jemaat yang mendengarnya pun tentu mememperoleh lebih kecil lagi dari sejumlah informasi yang disampaikan, karena menurut pengamatan para ahli, manusia pada umumnya hanya mampu mengingat hari ini lima persen dari apa yang didengarnya kemarin. Karena itu, ketika anggota-anggota jemaat dari dua golongan gereja berbeda saling bertemu dan membicarakan topik iman yang sama, dapat saja mereka bersilang pendapat karena mereka mendapatkan (atau mengingat) bagian-bagian informasi yang tidak sama dari pengajar yang tidak sama walaupun menyangkut pokok yang sama. 
       Itulah sebabnya referensi tertulis sangatlah penting, dan orang yang mau benar-benar mengetahui sesuatu ia harus bersifat terbuka, rajin membaca dan menelusuri sebanyak mungkin referensi. Ia tidak boleh memilih sikap seperti katak di bawah tempurung, baru tahu sedikit, disangkanya dia sudah mahapandai, hanya dia yang benar, orang-orang lain salah semuanya. Dalam kekristenan, standard tertinggi untuk menguji ajaran-ajaran dari para pengkhotbah dan pengajar, lisan maupun tertulis, adalah Alkitab. Selanjutnya, bila didapati adanya perbedaan-perbedaan dalam bagian-bagian Alkitab tertentu serta beragamnya tafsiran dalam referensi yang tersedia, maka kita harus menghindar dari pemikiran bahwa ayat-ayat Alkitab saling bertentangan.
       Orang yang belajar dan mengajar Alkitab harus mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri sendiri setiap kali membaca satu bagian Alkitab (Bible passage), a.l., (1) Bagian yang saya sedang baca ini ditujukan kepada siapa, apa yang Tuhan perintahkan, kapan dan bagaimana melakukan perintah itu? dan (2) Kalau bagian ini ditujukan kepada umat Allah pada dispensasi-dispensasi sebelumnya atau dispensasi yang akan datang, apakah prinsip-prinsip yang saya dapat pelajari dari bagian ini? Jawaban-jawaban terhadap kedua pertanyaan ini akan sangat membantu kita untuk mengerti dan mengaplikasikan makna bagian Alkitab yang sedang dipelajari tanpa pemikiran bahwa ayat-ayat Alkitab ternyata saling bertentangan satu sama lain. Jadi, Alkitab adalah yang pokok, sedangkan alat-alat yang lain seperti kamus, ensiklopedia, dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan penafsiran dsbnya hanya untuk membantu. Kebiasaan rajin membaca dan menelusuri referensi serta sikap berserah kepada bimbingan Roh Kudus melalui doa yang tekun haruslah menjadi bagian kehidupan yang penting bagi orang-orang yang belajar dan mengajar Alkitab.
       Pada kesempatan ini, penulis mau mengajak kita semua untuk belajar tentang kata “injil.” Tentu kita semua maklum bahwa tulisan singkat ini tidak mampu memberikan informasi menyeluruh mengenai topik dimaksud, hanyalah sebagian yang sangat kecil seperti sudah dijelaskan pada tiga alinea di atas.  Dalam tulisan ini kita bukan memberi tekanan pada isi injil, tetapi pada pengertian kata “injil”serta  bermacam-macam ungkapan yang dipakai untuk menyebut injil itu (boleh juga disebut “Macam-Macam Ungkapan dengan Kata Injil”) seperti yang kita dapati di dalam Alkitab. Juga para pembaca lihat sendiri, dalam artikel ini kata “injil” ditulis dengan “i” (huruf kecil); hanya kalau itu menjadi sebuah nama atau dalam judul/sub judul atau sebagai kata pertama dalam kalimat, baru huruf “i” pertama itu dieja dengan “I”(huruf  besar). Harap hal ini tidak mengganggu walaupun di antara pembaca ada yang lebih senang melihat kata “injil” selalu dieja dengan “I” (huruf besar) di awalnya.

Arti Kata Injil

       Kata “injil” itu diserap dari bahasa Arab yang berarti khabar baik. Alkitab berbahasa Indonesia menggunakan kata “injil” untuk menerjemahkan kata Yunani εὐαγγέλιον (dibaca euangelion). Jadi, semua yang disebut dengan “khabar baik” di dalam Alkitab itu sebenarnya dapat dimengerti sebagai “injil” atau euangelion (dalam Septuaginta—terjemahan PL ke bahasa Yunani dan dalam PB berbahasa Yunani),  Dalam perkembangan lanjut, kata “injil” yang dalam bahasa Inggerisnya “gospel” (maknanya juga sama yakni “khabar baik”) dipakai sebagai nama keempat kitab pertama dalam PB. Demikian juga halnya orang-orang Kristen di negara-negara yang berbahasa Arab menamai keempat kitab pertama PB itu sebagai Kitab-Kitab Injil yakni Injil-Al-Mattius (Kitab Injil menurut Matius), Injil-Al-Marcus (Kitab Injil menurut Markus), Injil-Al-Lucas (Kitab Injil menurut Lukas), dan Injil-Al-Yohannah (Kitab Injil menurut Yohanes).
      Dalam pemahaman teologi, kata “injil” dipakai untuk menyebut khabar baik yang disampaikan langsung oleh Yesus Kristus (Injil Yesus Kristus) dan atau khabar baik tentang Yesus Kristus yang disampaikan oleh keempat penginjil seperti disebut di atas plus rasul-rasul lainnya seperti Rasul Petrus, Rasul Paulus dllnya. Rasul Paulus secara gamblang menyebutkan khabar baik yang dia sampaikan itu sebagai “Injilku” (εὐαγγέλιόν μου). Kalau sudah demikian maka timbullah pertanyaan seperti diuraikan pada bagian pengantar, apakah Injil yang diberitakan oleh Paulus, sama dengan ataukah berbeda dari Injil yang diberitakan oleh Tuhan Yesus?
      Apabila pertanyaan seperti itu dijawab dari segi pengertian kata seperti sudah dijelaskan di atas, ya, pastilah semua injil itu sama yaitu khabar baik. Namun isi khabar baik itu tentunya dapat berbeda-beda tergantung pada siapa yang memberitakannya, kapan diberitakan dan kepada siapa berita itu disampaikan. Hal ini dapat kita lihat dengan jelas dalam PL (Baca misalnya II Sam. 4:10; II Raja 7:9; Band. Yes. 40:9; 52:7). Dalam PB, seperti sudah dikatakan di atas, keempat kitab pertama disebut sebagai Kitab-kitab Injil, walaupun pada kenyataannya hanya Markus yang menggunakan kata “injil” pada bagian pembukaannya (Markus 1:1).
     Apabila kita memasuki bidang penafsiran, maka Kejadian 3:15 dapat disebut sebagai khabar baik yang disampaikan oleh Allah kepada umat manusia, walaupun dalam ayat ini tidak ada kata yang dapat diterjemahkan sebagai eungelion. Khabar baik di sini sudah menjurus kepada pengertian spesifik yaitu berita keselamatan di dalam Yesus Kristus, Anak Allah yang akan dilahirkan sebagai benih perempuan, Dia akan mengambil rupa manusia dan tunduk sampai mati sebagai tebusan bagi orang banyak.
     Perhatikan bahwa kalimat dalam Kejadian 3:15 ini ditujukan oleh Allah kepada ular (Baca mulai dari ayat 14), namun diperdengarkan kepada Adam dan Hawa, lalu dengan ilham Roh, Nabi Musa menuliskannya supaya dibaca oleh orang-orang Israel di bawah Dispensasi Hukum Taurat. Sekarang, di bawah Dispensasi Kasih Karunia, kita semua pun boleh membacanya. Mengikuti alur berpikir seperti ini, maka Alkitab, dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, dipenuhi injil yaitu khabar baik. Tidak heran kalau orang-orang non Kristen sering menyebutkan bahwa Kitab Suci orang Kristen adalah “Injil” dan kita yang beragama Kristen tidak merasa perlu membantahnya atau mengoreksinya, walaupun kita tahu bahwa nama Kitab Suci orang Kristen adalah Alkitab.

Macam-Macam Ungkapan dengan Kata Injil
     Nah, diharapkan sampai pada titik ini para pembaca sudah mendapatkan gambaran bahwa isi khabar baik atau injil itu berbeda-beda, walaupun prinsip-prinsipnya dapat saja sama. Menelusuri kata “injil” dalam Alkitab, kita akan mendapatkan bermacam-macam ungkapam yakni: (1) Injil Allah; (2) Injil Yesus Kristus, (3) Injil Kristus, (4) Injil Perdamaian, (5) Injil Kerajaan, (6) Injilku—Paulus yang mengatakannya, (7) Injil untuk orang tak bersunat, dan (8) Injil untuk orang bersunat.
     Kedelapan ungkapan itu menunjukkan persamaan dan perbedaan. Sama karena semuanya adalah injil, namun dapat berbeda karena qualifying phrase yang ditambahkan pada penyebutannya memberi arti yang berbeda, dan context-nya dalam Alkitab juga berbeda-beda. Dalam bahasa Inggeris semuanya disebutkan sebagai “Gospel of …..” kecuali apa yang Paulus katakan sebagai “Injilku” (My Gospel) yang tentunya dapat juga dimengerti sebagai Gospel of Paul—namun dalam teologi biasanya disebut sebagai Pauline Gospel.
     Ungkapan atau frasa “Injil Allah” (Gospel of God) merujuk kepada setiap khabar baik yang bersumber dari Tuhan Allah (Mark. 1:14; Roma 1:1; 15:16; II Kor. 11:7; I Tes. 2:2, 8, 9). Ungkapan “Injil Yesus Kritus” (Gospel of Jesus Christ) yang dipakai oleh Markus (Baca Markus 1:1), dalam Alkitab berbahasa Indonesia ditulis sebagai “Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” Dalam terjemahan bahasa Inggeris, kata depan “of” di sini dapat pula dimengerti sebagai “dari” atau “milik” (“belongs to”) sehingga frasa ini dapat dibaca, “Injil dari Yesus kristus, Anak Allah” (atau  “the Gospel which belongs to Jesus Christ, the Son of God”).
     Ungkapan “Injil Kristus” (Gospel of Christ) dipakai oleh Rasul Paulus dalam Roma 15:19, 29; I Kor. 9:12, 18; II KOr. 2:12; 9:13; 10:14; Gal. 1:7; Fil. 1:27; I Tes. 3:2). Frasa ini dimengerti sebagai istilah umum seperti juga Injil Allah, dan menunjuk kepada Kristus sebagai obyek iman. Frasa “Injil Kerajaan” (Gospel of the Kingdom) ditemukan hanya dalam Kitab Injil menurut Matius (4:23; 9:35; 24:14). Injil Kerajaan berhubungan dengan janji Allah kepada Daud seperti disebutkan dalam II Samuel Pasal 7. Yohanes Pembatis berkhotbah kepada bangsa Israel dan mengingatkan mereka tentang kedatangan kerajaan sorga yang sudah dekat (Mat. 3:2), demikian pula Tuhan Yesus (Mat. 4:17) serta murid-murid-Nya (Mat. 10:7).
      Frasa “Injil Perdamaian” merujuk kepada karya penebusan oleh Kristus yang telah memperdamaikan manusia dengan Allah. Rasul Paulus mengutip Yesaya 52:7 ketika dia berbicara tentang Injil Perdamaian (Ef. 6:15). Manusia yang telah berdosa memperoleh kesempatan untuk menerima penebusan oleh darah Yesus, Anak Domba Allah yang menghapus dosa-dosa manusia (Yoh. 1:29). Allah berkenan terhadap pengorbanan Tuhan Yesus, dan orang-orang tebusan yaitu mereka yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka pribadi diperdamaikan dengan Allah (Roma 5:10).
    Frasa “Injilku” (My Gospel atau dapat diartikan sebagai Pauline Gospel) dapat dibaca dalam Roma 2:16; 16:25; II Tim. 2:8. Ungkapan ini akan diberi penjelasan yang lebih rinci karena menyangkut khabar baik bagi kita yang hidup dalam dispensasi sekarang ini, dan sering menjadi perdebatan di antara para penafsir.  
    Alkitab berbahasa Indonesia menerjemahkan frasa “my gospel” (εὐαγγέλιόν μου) sebagai “Injil yang diberitakan oleh Paulus” dalam Roma 2:16, dan “Injil yang kumasyhurkan” dalam Roma 16:25. Hanya di dalam II Tim. 2:8, dipakai kata “Injilku.” Beberapa penafsir menunjuk pengertian frasa ini ke I Kor. 15:1-4 dan tentu saja hal itu benar karena itu memang Injil yang diterima oleh Paulus dari Tuhan dan yang diberitakan oleh Paulus. Namun rasul-rasul yang lain pun menyampaikan berita yang sama dengan itu, sehingga istilah “Injilku” haruslah merujuk pada sesuatu yang lain. Ahli-ahli lain menunjuk kepada Injil keselamatan untuk orang-orang bukan Yahudi (Gentiles) karena Paulus adalah rasul yang khusus ditugaskan oleh Allah untuk bangsa-bangsa lain—orang-orang bukan Yahudi (Roma 11:13). Tetapi berita keselamatan untuk bangsa-bangsa lain sudah disebutkan dalam kisah-kisah serta nubuat-nubuat Perjanjian Lama, bahkan dalam apa yang dikenal sebagai “Amanat Agung” pun, Tuhan sudah memerintahkan murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil kepada segala bangsa.
     Membaca Roma 16:25, 26 kita dapat melihat bahwa frasa “Injilku” itu berhubungan dengan program Allah yang rahasia (μυστήριον) yang disimpan selama berabad-abad lamanya dan yang kemudian dinyatakan-Nya kepada manusia melalui Rasul Paulus. Inilah maksud Paulus ketika dia menyurat kepada orang-orang Galatia dia berkata, “Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus” (Gal. 1:12).
     Jadi, Injil yang diterima oleh Rasul Paulus (Injilku) itu adalah Injil Yesus Kristus juga sehingga  mengandung unsur-unsur yang sama dengan yang diberitakan oleh rasul-rasul yang lain, seperti sudah disebutkan di atas (I Kor. 15:3-4 misalnya), tetapi isi “Injilku” itu sesuai dengan program Allah yang dipercayakan kepada-Nya yaitu Dispensasi Kasih Karunia (Ef. 3:2) yang adalah program rahasia Allah (Ef. 3:5, 9; Roma 16:25). Rasul Petrus pun menulis bahwa para nabi telah berusaha meneliti tentang  saat yang mana dan bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus di dalam mereka, yang memberikan kesaksian tentang segala penderitaan Kristus dan segala kemuliaan yang menyusul kemudian (Baca I Pet. 1:11). Jadi, ketika para nabi menerima penyataan Allah, dalam penglihatan mereka ada dua peristiwa utama yakni penderitaan dan kemudian disusul dengan kemuliaan yang dialamai Kristus.
    Para nabi itu, ibarat memandang jauh ke depan, mereka melihat Bukit Penderitaan (Bukit Joljuta tempat Kristus mati di salib) dan Bukit Kemuliaan (Bukit Zion, ketika Kristus menggenapi janji untuk memulihkan kerajaan Daud). Mereka melihat kedua bukit itu berimpit, peristiwa yang pertama langsung disusul oleh peristiwa yang kedua. Daerah yang luas yang terbentang di antara kedua bukit itu tidak tampak kepada mereka, itulah Dispensasi Kasih Karunia yang dirahasiakan Allah selama berabad-abad dan kemudian dinyatakan kepada Rasul Paulus dan melalui dia, para rasul lain dan kita yang hidup sekarang boleh mengetahuinya juga, bahkan kita sedang mengalaminya sendiri.
    Hal yang dilukiskan pada alinea di atas dapat dibaca dalam Mazmur 22 ketika Daud menuliskan tentang penderitaan Kristus dan kemuliaan yang menyusul sesudah itu. Rasul Petrus pun dalam khotbahnya pada hari raya pentakosta mengutip  Joel 2:28-32 untuk menerangkan mengenai janji Allah yang berhubungan dengan turunnya Roh Kudus dan apa yang akan terjadi sesudah itu tanpa petunjuk mengenai apakah ada sesuatu yang lain di antaranya (KR. 2:17-21). Penjelasan lanjut dapat dibaca dalam buku Ayat-Ayat Alkitab Saling Bertentangan Benarkah? (Yayasan PELITA, 2005, hal. 88-89, 94-95). Jelaslah dari contoh-contoh ini bahwa kepada para nabi dan para rasul tidak diberi penyataan mengenai program Allah yang rahasia itu sebelum dinyatakan-Nya kepada Rasul Paulus. Jadi, kata “Injilku” yang dipakai oleh Paulus merujuk kepada khabar baik yang berhubungan dengan program Allah yang rahasia dalam Dispensasi Kasih Karunia sekarang ini. Karena itu, maka kata “Injilku” dimengerti juga sebagai “Injil Kasih Karunia”(K.R. 20:24) tanpa mengurangi atau meniadakan unsur kasih karunia dalam penyebutan atau ungkapan dengan kata injil yang lain-lainnya.    
     Ungkapan “Injil untuk orang yang tidak bersunat” itu merujuk kepada injil yang diamanatkan oleh Tuhan kepada Paulus (Gal. 2: 6-9), jadi, sama dengan “Injilku” yang sudah diterangkan di atas. Sedangkan frasa “Injil untuk orang yang bersunat” itu merujuk kepada Injil yang diamanatkan Tuhan kepada Rasul Petrus (Gal. 2:6-9) dan kesebelas rasul lainnya dalam hubungan dengan janji Allah tentang kedatangan sang Mesias yaitu Raja yang akan menduduki takhta Daud. Dengan demikian “Injil untuk orang bersunat” itu sama dengan “Injil Kerajaan.”

Kesimpulan
      Injil artinya adalah khabar baik, jadi Injil Allah berarti semua khabar baik yang bersumber dari Allah. Dalam pengertian spesifik, kita mengenal istilah Injil Yesus Kristus yang tentu saja berasal dari Allah juga dan isinya ialah berita keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus Juruselamat manusia. Injil yang diberitakan oleh Tuhan Yesus dalam pelayanan-Nya di bumi dan selanjutnya diteruskan oleh keduabelas rasul adalah berita keselamatan untuk seluruh umat manusia. Namun berita keselamatan itu dimengerti oleh orang-orang di bawah Dispensasi Hukum Taurat yang berlaku pada waktu itu dalam hubungan dengan penggenapan perjanjian Allah kepada Abraham (dinyatakan dalam frasa “Injil untuk orang bersunat”) dan kepada Daud (dinyatakan dalam frasa “Injil Kerajaan”). Dalam pengertian seperti ini, maka bangsa Israel menjadi yang terutama (Mat. 10:5-6 ; Band. K.R. 13:46).
     Injil yang diberitakan oleh Rasul Paulus, yaitu injil yang diterimanya langsung dari Tuhan, bukan melalui perantaraan rasul-rasul lain itu, adalah berita keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus untuk semua umat manusia, khususnya orang-orang bukan Yahudi (Roma 11:13; Gal. 2:6-9). Injil yang diberitakan oleh Paulus ini berhubungan dengan program Allah yang dirahasiakan oleh Allah selama berabad-abad (Roma 16:25; Ef. 3:5, 9; Kol. 1:25). Paulus menyebut injil yang diterimanya langsung dari Tuhan itu sebagai “Injilku” atau “Injil Kasih Karunia Allah.”
     Di bawah Dispensasi Kasih Karunia, tidak ada lagi perbedaan antara orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi, semua orang yang menerima Injil Kasih Karunia Allah dibaptiskan oleh Roh Kudus ke dalam satu tubuh, yaitu gereja—Tubuh Kristus (I Kor. 12:13, 27; Efesus 2:13-16; 3:4-10) dan pengharapan mereka bukanlah menantikan datangnya kerajaan sorga di bumi melainkan pengangkatan gereja, Tubuh Kristus ke sorga kekal mulia (I Tes. 4:16-17). Tugas kita sekarang adalah memberitakan Injil kasih Karunia Allah ini kepada semua orang.


BSL - Psalm 1:1-6

By: Dr. Frans P. Tamarol

Introduction
The book of Psalms or Psalter is a hymnal book. It is a book of devotions of the Jewish congregation. Historically, the composition of psalms may reflect emotional and spiritual condition stirred by significant events in the life of the nation of Israel as a whole or in personal life of a significant person as David. Our passage is the introductory Psalm since it introduces not only the Book One (Chapters 1-41), but also the whole books of Psalms (5 books, 150 chapters). It is categorized as one of the Wisdom Psalms (W. H. Bellinger, JR, Psalms: Reading and Studying the Book of Praises, p 126). It is also classified as one of the Torah Psalms. Its vocabulary style and theme do not conform to the usual pattern of Psalmody (Nahum M. Sarna, On the Book of Psalms, p 26); however, as a poetic passage, Psalm 1 takes the form of antithetic parallelism, which involves a contrast between statements (H. C. Leupold, Exposition of the Psalm, p 14). 

Generic Conception
Generic conception of this passage is that, “The righteous is blessed for the Lord knows his way, but the way of the wicked will perish.”

Observations about the Passage
     As one reads this passage, he could immediately see at least there are two things lacking. First, it does not have a heading, which in a considerable number of instances indicate authorship. Second, there is no outpouring of soul as one may expect when reading Psalms. There is no invocation of God, no praise, or petition, neither lamentation.
     When our observation goes to Chapter 2, it has no heading either. If these two chapters are put together, then they make sense as the opening Psalms, because Psalm 1 deals with the Law and Psalm 2 with the prophecy, both of them are foundational to the religious lives of Israelites, who were the original readers of Psalms.
     This passage starts with the first phrase, “How blessed is the man” (NASB).  In Nahum M. Sarna’s observation, the Book of Psalms is complementary to the Torah. According to him, the Torah is anthropotropic, which represents the divine outreach to humankind; the book of Psalms is theotropic, which epitomizes the human striving for contact with God. The Ten Commandments then, opens with “I am the Lord your God,” and closes with “Your neighbor,” while the book of Psalms symbolized the movement in the reverse direction from humanity to God, by commencing with “How blessed is the man” (Psalm 1:1) and ending with “Praise the Lord” (Psalm 150:6). Sarna even goes further speculating that the “five-fold divisions of the books of Psalms may well have been influenced by the pentateuchal arrangement of Torah, and the number of one hundred and fifty individual compositions has in all probability been conditioned by the original Palestinian triennial division of one hundred and fifty weekly torah readings.”
     The passage proceeds with the contrast through the presentation of: (1) What the righteous is not; (2) What the righteous is; (3) What the wicked is; (4) What the wicked is not; (5) The way of the righteous; and (6) The way of the wicked. The summary of these contrasting facts is “the righteous is blessed and the wicked is doomed.”
     The use of illustrations also sharpens the contrast. The first illustration describes the characters of the righteous as a tree planted by the rivers, standing firm, nurtured, and productive, while the second illustration depicts the characters of the wicked as chaff, no standing position, blown by the wind, no certainty at all. 
     Psalm 1 is truly a Wisdom Psalm which employs characters of wisdom texts such as blessed saying (“How blessed is the man….”), and similes (“The wicked are not so: but they are like chaff which the wind drives away.”) (W. H. Bellinger, JR., Psalms: Reading and Studying the Book of Praises, p 125).
     In verse 1 (KJV and NASB), there is a continuation of the idea of how a person could be entrapped into the way of the ungodly: walking, standing, and sitting. Other translations do not reflect this continuation but variation in statements must have an emphasizing effect. Another continuation is in verse 2, which shows further extension of one’s delight in the law of the Lord to his meditating the law day and night.
     Difficulty arises when we try to identify the righteous man and the wicked in this passage. Was the writer talking about persons in the same group of people (Israelites), or in two groups of people (Israelites and the heathen)? Assuming that all Israelites were godly is debatable, of course.  Interestingly, in this passage, the righteous is in singular form, while the wicked is in plural form (KJV and NASB).

Interpretation of the Passage
     The absence of the heading is explained by H.C.Leupold (Exposition of the Psalms, p 5) quoting from Hans Schmidt, “…the notations [in the headings] concerning the author, which by the way are more numerous in the Septuagint, are not to be regarded as a matter of reliable historical record but as conjectures made by the collectors [of the psalms]—venerable indeed as early attempts in the field of literary studies but of no moment for the understanding of the psalms.” Of course, there are some reasons to point to David as the author of Psalm 1 because of some statement that are similar in Psalm 26 verses 4-5 and the appended remark at the end of Book 2 (Psalm 72:20). But the similarities of statements are common to the Book of Psalms and the remark in Psalm 72:20 does not classify all the first 72 Psalms (Book 1 and Book 2) as written by David, since there are about 17 more Psalms in the remaining books appear that are ascribed to David.
     “The righteous man” may represent both a person as an individual and a group of Israelites under the law. The word “man” does not imply gender that is why other translation render it as “one” (human kind). This passage does not tell the readers how to become a righteous man. It simply tells what the righteous man is. This is important in order not to draw a false conclusion that a man may be justified by the law. The wicked people (plural) are the general public. “It is they who set society’s standards, who fix the patterns of behavior, and who wield the power to shape popular conceptions of right and wrong in accordance with their own perceived self-interests.” (Nahum M. Sarna, On the Book of Psalms, p 32). In an atmosphere of seductive depravity, our man in view stands apart from the crowd (Note: the definite article—“the ”).
     The teachings are very clear: (1) True blessedness or happiness is for the righteous man; (2) The righteous stands away from the way of the wicked; (3) The Lord knows the way of the righteous; and (4) The way of the wicked is doomed.

Application
1)    For the original readers (the Israelites) this Psalm was relevant to their religious life under the Law. Hence, the application for them literally followed the text.
2)    To us in the present dispensation, the same teachings are applicable too in the sense that our daily walk is governed by God’s word and empowered by the indwelling Holy Spirit.  
3)    The fact that the Lord knows the way of the righteous gives us assurance, protection, and comfort as we serve Him in the midst of the wicked. “O, how blessed are we ….”

Bible Study Lesson in PDF Form

Friday, January 7, 2011

PESAN Edisi 75

Kuasa darah Yesus tidak bekerja  setengah-setengah atau kadang-kadang, tetapi berfungsi dan bermanfaat optimal dan selamanya. If you want more details on this then get yourself a copy of PESAN Edisi 75.
Bagi saudara yang tidak mendapatkannya kami menyediakan online dalam format PDF. Untuk mendownload silahkan klik di sini

Testimony - How Do I Get To Heaven From Here?

By: Dr. Frans P. Tamarol

       Some people may not want to know if there is a place called heaven. If you are one of these people, just continue reading, hopefully by the end of this brief message, you will grasp the simple truth of the matter.
       The Bible, which is God’s written word, gives a light for anyone who wants to know about heaven; and most importantly, God provides you with the way if you want to spend your future eternity in heaven with Him.
       Now, this world can be a very good place to live in if you feel secure economically and socially. Or, you may think otherwise, if you are suffering from disadvantages, illnesses or misfortunes; it may even seem that there is no way for you to get out of such conditions. However, what you feel or think about your life does not determine or assure your eternity in the future. Only one thing is certain and that is one day you are going to leave this life. Therefore, it is very important for you to know whether you are going to heaven with the Lord when this life is over. So, your question would be, “How do I get to heaven from here?”
       Now, the God of the universe is a loving God. “For God so loved the world, that He gave His only begotten Son, that whoever believes in Him shall not perish but have eternal life” (John 3:16). Unfortunately, mankind has gone astray
in transgression of God’s will and holiness. This condition is called sin, and “The wages of sin is death” (Romans 6:23a). Another passage of the Bible says that man is destined to die once and after that to face judgment (Hebrews 9:27).
       One might question, “Where does the love of God fit into this human destiny?” The answer is simple, in fact it is very simple. The love of God fits in your faith. When you trust in His word as it is written in the Bible, you take God at His word, and that means you have faith in Him. If so, then you would believe in Jesus Christ, and therefore, you shall not perish but have everlasting life. This is exactly what the Bible says, “But the gift of God is eternal life through Jesus Christ our Lord” (Romans 6:23b).
       Your next question might be, “What happens then with all my sins? The Bible says your sins have all been forgiven. Jesus Christ had come to the world in human form and bore the punishment for sin in His own body (John 1:29; Romans 5:8; I Peter 2:24). This is called grace—God’s grace.
       Christ had shed His blood on Calvary, and that blood would wash all of your sins away
(1 John 1:7-9). “Therefore, there is now no condemnation for those who are in Christ Jesus” (Romans 8:1). The phrase “in Christ Jesus” refers to you and many others who have received Christ as their personal Lord and Savior. Now, you may wonder, “How can I be one of those who have received Christ? I don’t have any idea of what it means.” Well, in this case, this is the time for
you to really, really think of your future in eternity.
       God has provided two places for man to spend for the eternity. The first place is heaven, which is God’s place, a glorious and happy eternal home for believers in Christ. The second place is hell, which is the devil’s final destination, an eternal lake of fire where all sinners and transgressors who disobeyed God and rejected His Son would go when this life on earth is over.
       Therefore, you have a serious decision to make, and you are urged to do it now. Jesus is God, and He is here waiting for you to say to Him, “O Jesus, please come into my heart now. I believe you as my Lord and my Savior. I believe that your blood has cleansed me from all of my sins, and I believe that you have given me heaven as my eternal home. Now I know that when this life is over, I am going to heaven with You. Thank you Lord Jesus, Amen.”
       When you have faith in the Lord Jesus as expressed in the above prayer, or something similar to it, you have the assurance of salvation—it means you are saved; you are no longer under condemnation. You have been saved by the grace of God in Jesus Christ. You would no longer wonder as to where you are going to spend the eternity in, because you know that you are among those people who have accepted Christ as your personal Lord and Savior. To learn more about the Lord Jesus Christ and His wonderful grace, please contact GLEAM at the address on the front.


Testimony - How Do I Get To Heaven From Here? (PDF Format)

Reflection - Rumput Menjadi Kering dan Bunga Menjadi Layu


By : Pdt. Dr. Frans P. Tamarol
“All men are like grass, and all their glory is like the flowers of the  field;  the grass withers and the flowers fall, but the word of the Lord stands forever” 
 (1 Peter 1:24-25  NIV)


      Adalah sangat baik kalau kita dapat membuat refleksi dari hal-hal positif dan yang boleh membina sikap yang optimistis mengingat bahwa orang-orang percaya, anak-anak Tuhan yang sudah ditebus dengan darah-Nya, adalah anggota-anggota Tubuh Krstus yaitu gereja yang dipanggil dan dikuduskan untuk membawa misi Injil keselamatan kepada dunia. Di penghujung tahun 2010 ini, judul refleksi di atas agak kedengaran pesimistis, tetapi ayat Alkitab (I Petrus 1:24-25) yang dikutip di depan sama sekali tidak menganjurkan sikap pesimistis seperti itu, karena kata-kata penutup berbunyi, “… tetapi Firman Tuhan itu tetap sampai selama-lamanya.”

       Juga, kita harus tetap optimis karena pada masa seperti ini yaitu pada setiap akhir tahun, kalender di dinding kita justru memuat peringatan “natal” Yesus Kristus yang makna utamanya adalah khabar baik tentang kesukacitaan besar—good news of great joy” (Luk. 2:10). Memang tentunya bukan karena kalender menentukan bahwa peringatan natal itu pada bulan Desember maka kita harus optimis, tetapi karena Alkitab mencatat bahwa Tuhan Yesus, Allah yang berinkarnasi menjadi manusia itu sudah datang dan bersedia lahir di kandang Betlehem, hidup sebagai anak tukang kayu di Nazaret, dan mati bersama dengan kumpulan penyamun di Golgota untuk menggantikan kita manusia yang penuh dosa.

       Sikap optimistis itu dengan demikian tidak tergantung pada kalender, dan tidak tergantung pada lingkungan sekitar (apakah bersahabat ataupun tidak bersahabat), bahkan tidak tergantung pada bentuk perayaan natal yang dilakukan oleh gereja-gereja dan persekutuan-persekutuan Kristen, tetapi pada iman kita terhadap karya Kristus, Juruselamat manusia. Perayaan natal sendiri tidak pernah diperintahkan dalam Alkitab dan tanggal pastinya pun tidak tercantum dalam Kitab-Kitab Injil. Kalau gereja-gereja dan persekutuan Kristiani mau merayakan natal pada tanggal tertentu (biasanya di bulan Desember dan adakalanya pada bulan Januari juga), maka yang perlu diperhatikan ialah bentuk perayaan itu musti bersifat Kristiani, memberitakan Injil kasih karunia Allah, mengusahakan terwujudnya sukacita sorgawi di dalam keluarga dan di dalam persekutuan gerejawi, menjamin terciptanya damai sejahtera di antara umat, dan pada ujungnya membawa kemuliaan dan kepujian bagi Tuhan Allah, Bapa sorgawi kita.

       Namun masih ada lagi satu hal yang sering menyesakkan nafas dan memusingkan otak orang-orang pada saat-saat menjelang akhir tahun, yakni “kekuatiran” (baca “ketakutan”) memasuki tahun yang baru. Di dalam hati, orang mengajukan beberapa pertanyaan antara lain: (1) Apakah saya masih akan diperkenankan Tuhan untuk menyelesaikan tahun ini, dan boleh menyeberang ke tahun yang baru? (2) Apakah tahun yang akan datang ini akan membawa sukacita dan damai sejahtera kepada saya dan keluarga? (3) Apakah hal-hal yang sedang dikerjakan pada tahun ini dapat diselesaikan sehingga tahun yang baru nanti tidak dipenuhi dengan unfinished business dari tahun yang lama? (4) Apakah hal-hal yang menyesakkan yang terjadi pada tahun ini tidak akan berulang pada tahun yang baru, dan atau tidak akan berlanjut dan menjadi lebih parah? Ini baru contoh-contoh pertanyaan yang sering membayang-bayangi hati dan pikiran manusia di penghujung tahun.

      I Petrus 4:24-25 mengingatkan kita semua bahwa hidup manusia itu seperti rumput yang ada pada hari ini tetapi besok telah menjadi layu. Justru pada penghujung tahun seperti ini, manusia biasanya berpikir apakah tahun depan masih ada harapan? Seperti diungkapkan di atas, orang bertanya pada diri sendiri, “apakah saya masih dapat menginjakkan kaki di tahun 2011?” Seharusnya kita musti lebih sadar, jangankan menunggu sampai tahun 2011 yang tinggal beberapa hari lagi, setiap kita pun dapat bertanya, “apakah saya masih bangun besok pagi?”

       Ibarat bunga yang berkembang hari ini tetapi besok tidak didapati lagi, demikianlah hidup manusia termasuk saya dan saudara.  Syukurlah karena berita malaikat kepada para gembala di padang Efrata, memberi harapan kepada kita, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat …, yaitu Kristus Tuhan.” (Lukas 2:11). Ini adalah khabar gembira buat semua orang. Ini adalah kuasa Injil yang menyelamatkan orang-orang yang percaya kepada-Nya (Roma 1:16). Terpujilah Tuhan Yesus Kristus yang Firman-Nya kekal selama-lamanya. Amin.  




Rumput Menjadi Kering dan Bunga Menjadi Layu (Tract PDF Format)