Thursday, July 15, 2021

PESAN 106

 Kalau kita mau mendengar dan belajar dari firman Tuhan, maka kita akan dapati bahwa ajaran Alkitab itu definitif, maksudnya, bukan lagi pilihan, walaupun pada kenyataan sehari-hari masih ada di antara kita orang-orang percaya yang menganggap bahwa firman Tuhan itu adalah pilihan—didengar dan dipatuhi, ya; tidak didengar dan tidak dipatuhi tidak apa-apa, alias “suka-suka gue.” Di bawah nanti kita akan melihat beberapa ayat Alkitab.

Mari kita mulai dengan … silahkan klik di sini.

 

PESAN 105

 

As we read Col. 1:3-12, we will know that this passage does not only talk about Christian growth, but also other important things that believers must understand. However, for the purpose of answering your question, I would limit our discussion on Christian growth only.

A. In v. 3, the Apostle Paul and Timothy (“we”) give thanks to God upon hearing about the progress of the gospel in Colossae, but the main purpose of Paul in writing this epistle is to warn Colossian believers about false teaching that has crawled into this church, now known as the “Colossian Heresy.” Note that this church in Colossae was not directly founded by Paul.

B. Paul clarifies the procedures of Christian growth in the following order (vv. 4-5):

1. The power of the gospel is the foundation: (a) in becoming a Christian and (b) in growing as a Christian.

2. The Colossians—after they heard and understood the message of the gospel (i.e., believed in the gospel of the grace of God)—are to grow in faith, love, and hope (Cf. 1 Cor. 13:13, faith, hope, and love).

C. Paul describes Christian growth to the Colossian Church in the following 11 points:

To know what are the 11 point are, click here.

PESAN 104

 

Biasanya, orang bersedia memberi dari kecukupan bahkan mungkin dari kelebihan seperti yang dilakukan oleh para celebrities dan diunggah di media social akhir-akhir ini; prilaku dermawan seperti itu pantas mendapatkan acungan jempol. Tetapi kalau sedang berkekurangan, tentu sulit untuk memberi. Namun anak-anak Tuhan di Jemaat Filipi yang sedang berkekurangan pun tidak segan-segan menambah kekurangan mereka dengan Jalan menyisihkan sebagian dari apa yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri, lalu dipersembahkan kepada Tuhan demi membantu pelayanan sang rasul. Ini tentu sangat berbeda daripada kemurahan yang ditunjukkan oleh para celebrities di media sosial, karena yang dilakukan oleh orang-orang percaya di jemaat Filipi adalah sebuah sikap rohani dari pihak pemberi.

Apakah sikap yang sama juga yang dimiliki oleh para pembaca ketika sedang berkekurangan? Andaikan anda tidak memiliki persediaan cukup untuk kehidupan diri sendiri dan atau keluarga, apakah anda tetap tergerak hati menyisihkan sebagian dan memberi bagi orang lain yang membutuhkan atau bagi pelayanan Injil kasih karunia Allah? Harap pertanyaan ini mendapat jawaban, “Amin, haleluya.”

Bagaimana dengan anda yang sedang berkecukupan bahkan berkelebihan? Apakah anda juga berkerelaan hati untuk memberi? Beberapa celebrities telah dan terus melakukannya, dan kita tidak perlu mempersoalkan motif masing-masing, yang penting, mereka rela memberi. Di dalam kekristenan, hal memberi dengan kerelaan itu …

Artikel lengkap beserta dengan pelajaran tentang firman Tuhan yang pasti bisa menjadi berkat bagi kita semua bisa di dapat di sini.

PESAN 103

 

Kata Yunani sunsugos (σύζυγε dibaca syzyge) adalah kata sifat yang mempunyai arti [rekan] sepenanggungan ‘yokefellow’, seperti diberikan di dalam The NKJV Greek English Interlinear New Testament (Eds. Zane C. Hodges and Arthur L. Farstad, Nashville, TN: Thomas Nelson, 1994, p. 693). Artinya, para penerjemah menafsirkan bahwa kata itu tidak menunjuk pada satu nama pribadi. NASB, misalnya, menerjemahkan kata syzige dalam ayat ini sebagai true companion. Cara menafsirkan seperti ini diperkuat lagi dengan kesejajaran dua kata sifat yang dimulai dengan preposisi “syn”, yakni pertama syzyge, dan yang kedua synergōn pada ayat yang sama, yang berarti [rekan-rekan] sekerja. Bedanya, yang disebut pertama dalam bentuk tunggal sedangkan yang disebut kedua adalah jamak.

Karena itu, dalam tulisan ini kita ikuti saja terjemahan bahasa Indonesia (LAI) dan menafsirkan syzyge itu sebagai nama diri (laki-laki) dan mengejanya dengan huruf “S” besar menjadi Sunsugos, seperti Sintikhe pada ayat 2 yang dimulai dengan preposisi “syn” juga dan dimengerti sebagai nama diri (dalam hal ini seorang perempuan). Masih ada satu kata lagi dalam ayat 3 ini yang dimulai dengan preposisi “syn” yakni synēthlēsan (συνήθλησάν – kata kerja, aorist, indicatif, actif – orang ketiga jamak). Bentuk infinitifnya adalah synathleō yang merupakan gabungan preposisi syn dan kata kerja athleō. Seperti synergōn, kata synēthlēsan juga berbentuk jamak, jadi sudah pasti bukan … 

Artikel lengkap dan banyak pengetahuan tentang firman Tuhan lain bisa di dapatkan di sini.

PESAN 102

 

Dari sekian banyak pendekatan yang biasanya dilaksanakan ketika membaca dan mempelajari satu bagian Alkitab (buku, pasal, atau satu ayatpun), ilmu teologi, khususnya teologi dispensasional, selain melihat bagian Alkitab itu di dalam konteks (both immediate and remote contexts), juga mengenal apa yang disebut “prinsip-prinsip” dan “dispensasi-dispensasi.”

Apabila kita gagal melihat kedua hal ini, maka tidak jarang kita kurang tepat (fall short) dalam memahami teks Alkitab dan akhirnya dapat bermuara pada salah satu dari dua kutub ekstrem yakni: (1) Kita harus belajar dan memraktikkan “semua” ketentuan atau perintah yang tertulis di dalam Alkitab; atau (2) Kita harus belajar Alkitab semuanya, tetapi “hanya” melaksanakan apa yang diperintahkan di dalam Perjanjian Baru.

Akan sangat mudah bagi kita (ahli maupun awam sekalipun) untuk mengetahui bahwa kedua kutub ekstrem tersebut di atas itu ... Temukan artikel lengkapnya di sini.